Sejarah Kerajaan Bakulapura, Nama Raja, Kejayaan, Sumber Sejarah dan Penyebab Keruntuhannya

0
Sejarah Kerajaan Bakulapura, Nama Raja, Kejayaan, Sumber Sejarah dan Penyebab Keruntuhannya - Kisahnya berawal dari Sang Kudungga bin Sang Atwangga bin Sang Mitrongga yang berkuasa pada sekitar tahun 350-375 Masehi. Keluarga terpandang itu sudah beberapa generasi berada di Ratnadwipa (Kalimantan) dan menjadi penguasa. Beberapa ratus tahun sebelumnya, keluarga itu datang dari India lalu berbaur dengan warga pribumi, menikah dan beranak pinak di pulau Kalimantan. Garis silsilah mereka dimulai dari Sang Pusyamitra yang menurunkan wangsa Sungga di kerajaan Magadha. Ketika wangsa Sungga dikalahkan dan dikuasai oleh wangsa Kusan (Kucanawamsa), banyak di antara anggota keluarga ini, baik laki-laki dan perempuan yang mengungsi ke berbagai negara. Salah satu anggota wangsa Sungga bersama keluarga dan pengiringnya tiba di salah satu pulau di Nusantara, tepatnya pulau Kalimantan bagian timur. Mereka berbaur dengan warga pribumi, menikah, beranak pinak dan mendirikan sebuah desa yang diberi nama Kutai. Setelah berkembang menjadi kerajaan kecil lalu diubah namanya menjadi Bakulapura. Bakula yang berarti taanjung (muara), sedangkan Pura memiliki arti kota. Beberapa generasi selanjutnya dari keluarga keturunan wangsa Sungga ini lahirlah Sang Kudungga bin Atwangga bin Mitrongga. Lalu puterinya yang bernama Dewi Gari yang bergelar Maharatu Sri Gari diperisteri oleh Sang Aswawarman, putera kedua dari Prabu Darmawirya alias Dewawarman VIII (raja ke-8 Salakanagara) dengan Spatikarnawa Warmandewi (putri Prabu Dewawarman VII). Sementara kakak perempuan dari Prabu Dewawarman VIII yang bernama Dewi Minawati alias Iswari Tunggal Pertiwi Warmandewi menjadi permaisuri dari Rajadirajaguru Jayasinghawarman, pendiri kerajaan Tarumanagara.

Secara khusus, sebelum pernikahan antara Aswawarman dengan Dewi Gari, maka hubungan antara kerajaan Salakanagara dan Bakulapura sangatlah erat. Itu terjadi karena Prabu Darmawirya alias Dewawarman VIII telah lama bersahabat dengan penguasa Bakulapura, sebab Sang Kudungga itu adalah saudara sepupunya dari pihak ibu. Artinya permaisuri Prabu Dewawarman VII memiliki kakak yang menikah dengan penguasa Bakulapura saat itu yang bernama Atwangga, ayah dari Sang Kudungga. Karena itulah Aswawarman diangkat anak sejak kecil oleh Sang Kudungga dan ia tinggal di Bakulapura.
Jadi, Aswawarman dengan istrinya (Dewi Gari) masih bersaudara satu-buyut. Karena itu, setelah Sang Kudungga wafat, maka Aswawarman yang menggantikannya sebagai penguasa di Bakulapura. Dalam masa pemerintahannya, Bakulapura menjadi kerajaan besar dan kuat sehingga dialah yang dianggap sebagai pendiri dinasti (wangsakerta).
Selama hidupnya Maharaja Aswawarman memiliki tiga orang putera. Yang sulung bernama Mulawarman dan kelak menggantikan dirinya menjadi penguasa Bakulapura. Di bawah pemerintahannya Bakulapura menjadi semakin kuat dan besar. Ia adalah raja yang sangat berwibawa dan membawahi kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya.
Nama-nama raja Kerajaan Bakulapura
Selama berdiri, ada sekitar 29 orang raja/ratu yang pernah memimpin kerajaan ini. Semuanya punya sifat dan karakternya sendiri. Sebagian membangkitkan kejayaan, sebagian lainnya biasa saja. Bahkan dimasa pemerintahannya kerajaan ini harus mengalami keruntuhannya.
1. Maharaja Sri Kudungga bin Atwangga bin Mitrongga alias Sri Gedongga (350-375 M)
2. Maharaja Sri Aswawarman alias Wangsakerta (375-400 M)
3. Maharaja Sri Mulawarman Naladewa alias Wamseragen (400-446 M)
4. Maharaja Sri Wangsa Warman (446-495 M)
5. Maharaja Maha Wijaya Warman (495-543 M)
6. Maharaja Gaja Yana Warman (543-590 M)
7. Maharaja Wijaya Tungga Warman (590-637 M)
8. Maharaja Jaya Tungga Nagawarman (637-686 M)
9. Maharaja Nala Singhawarman (686-736 M)
10. Maharaja Nala Perana Tungga Warman (736-783 M)
11. Maharaja Gadingga Warman (783-832 M)
12. Maharaja Indra Warmandewa (832-879 M)
13. Maharaja Singa Wirama Warmandewa (879-926 M)
14. Maharaja Singha Wargala Warmandewa (926-972 M)
15. Maharaja Cendera Warman (972-1020 M)
16. Maharaja Prabu Mula Tunggaldewa (1020-1069 M)
17. Maharaja Nala Indradewa (1069-1117 M)
18. Maharatu Mayang Mulawarni alias Putri Aji Pidara Putih (1117-1166 M)
19. Maharaja Indra Mulia Tungga Warmandewa (1166-1214 M)
20. Maharaja Sri Langkadewa (1214-1265 M)
21. Maharaja Guna Perana Tungga (1265-1325 M)
22. Maharaja Nala Duta (Dewan Raja Perwalian) (1325-1337 M)
23. Maharaja Puan Reniq Gelar Wijaya Warman (1337-1373 M)
24. Maharaja Indra Mulia (1373-1407 M)
25. Maharaja Sri Ajidewa (1407-1425 M)
26. Maharaja Mulia Putra (1425-1453 M)
27. Maharaja Nala Praditha (1453-1509 M)
28. Maharaja Indrawarman (1509-1534 M)
29. Maharaja Dharma Setiya (1534-1605 M)
Kehidupan kerajaan Bakulapura
Informasi tentang kehidupan sosial di kerajaan Bakulapura-Kutai Martadipura bisa didapatkan dari terjemahan prasasti-prasasti yupa yang ditemukan oleh para ahli. Di antara kesimpulan yang bisa diambil adalah sebagai berikut:
1) Masyarakat di kerajaan ini tertata, tertib dan teratur.
2) Masyarakat di kerajaan ini memiliki kemampuan beradaptasi dengan budaya luar (India), mengikuti pola perubahan zaman dengan tetap memelihara dan melestarikan budayanya sendiri.
Sementara itu, kehidupan ekonomi di kerajaan ini dapat diketahui dari dua hal berikut ini:
1) Letak geografis kerajaan yang berada pada jalur perdagangan antara China dan India. Sehingga kerajaan ini menjadi tempat yang menarik untuk disinggahi para pedagang. Hal tersebut juga memperlihatkan bahwa kegiatan perdagangan telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Kutai pada masa itu, disamping pertanian dan peternakan.
2) Keterangan tertulis pada prasasti yupa yang mengatakan bahwa Maharaja Mulawarman pernah memberikan hartanya berupa “segunung” minyak dan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana. Ini jelas menunjukkan tingginya tingkat kesejahteraan hidup mereka pada waktu itu.
Lalu tentang kehidupan budaya masyarakat Kutai pada masa itu adalah sebagai berikut:
1) Masyarakat Kutai saat itu adalah masyarakat yang menjaga akar tradisi budaya nenek moyangnya.
2) Masyarakat Kutai saat itu sangat tanggap terhadap perubahan dan kemajuan kebudayaan.
3) Masyarakat Kutai saat itu sangat menjunjung tinggi semangat keagamaan dalam kehidupan kebudayaannya.
Keruntuhan kerajaan Bakulapura
Kerajaan Bakulapura-Kutai Martadipura seakan-akan tak terlihat lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi dengan pihak asing, hingga sangat sedikit yang mendengar namanya. Mungkin itu sebabnya keberadaan kerajaan ini kurang diperhatikan oleh para penulis tambo di daratan China atau pun India.
Berita tertua China yang bertalian dengan salah satu daerah di Kalimantan berasal dari zaman dinasti Tang (618-906 M). Padahal berita-berita China yang berhubungan dengan Jawa sudah ada sejak abad ke-5 dan dengan Sumatera pada abad ke-6. Kurangnya perhatian dari pihak China mungkin disebabkan Kalimantan tidak terletak pada jalur niaga China yang utama. Begitu pula pada masa sesudahnya, sehingga informasi tentang Kalimantan saat itu sangatlah sedikit.
Setelah berdiri pada sekitar tahun 350 Masehi, kerajaan Bakulapura-Kutai Martadipura akhirnya harus runtuh di tahun 1605 Masehi. Itu terjadi pada saat raja ke-29 yang bernama Maharaja Dharma Setiya (1534-1605 M) gugur dalam peperangan di tangan raja Kutai Kartanegara ke-13 yang bernama Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan kerajaan Kutai Kertanegara yang saat itu beribukota di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kertanegara inilah yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama pada tahun 1365 Masehi.
Kutai Kertanegara selanjutnya menguasai semua wilayah bekas kerajaan Bakulapura-Kutai Martadipura. Lalu beberapa waktu kemudian kerajaan ini menjadi kerajaan Islam. Sejak tahun 1735 Masehi, rajanya yang bergelar Pangeran juga berubah menjadi bergelar Sultan (Sultan Aji Muhammad Idris misalnya) dan hingga sekarang disebut Kesultanan Kutai Kertanegara.[gs]

Comments
0 Comments